Kesehatan Gigi Ternyata Berpengaruh Pada Kesehatan Seluruh Tubuh

Kesehatan bukan segalanya, namun tanpa kesehatan, segalanya tidak berarti apa-apa. Tidak jarang pula banyak orang yang menganggap bahwa kesehatan itu mahal, padahal, yang membuat mahal adalah sembuh dari sakit, bukan kesehatannya. Kesehatan juga bukan hanya tentang sembuh dari sakit, melainkan juga tentang mencari cara untuk mencegah sakit. Tapi, bagaimana caranya?
Cara sederhana untuk tetap sehat adalah dengan hidup , makan makanan yang sehat dan bergizi, tidur cukup, perbanyak konsumsi air putih, olahraga secara rutin, dan hindari stres. Dengan begitu, kesehatan fisik akan tetap terjaga. Namun, tahukah Anda bahwa gigi dan mulut juga sangat perlu untuk dijaga kesehatannya?

Apa hubungan kesehatan gigi dan mulut dengan kesehatan Anda secara keseluruhan?

Sebuah studi menunjukkan bahwa kesehatan gigi dan mulut yang buruk dapat menimbulkan berbagai komplikasi penyakit membahayakan. Sehingga gigi dan mulut adalah panca indra vital yang perlu diutamakan pemeliharannya.
Rongga mulut merupakan salah satu pintu masuk bakteri penyebab penyakit ke bagian tubuh lainnya, baik aerob maupun anaerob. Bakteri pada rongga mulut ternyata dapat menyebar melalui aliran darah, yang disebut dengan bakteremia.
Jika kesehatan mulut Anda optimal, bakteri yang dapat masuk ke dalam aliran darah hanya sedikit dan tidak membahayakan tubuh. Namun jika kesehatan mulut Anda tidak dalam keadaan baik, maka jumlah bakteri yang akan masuk ke dalam aliran darah meningkat dua hingga sepuluh kali lipat. Hal tersebut dapat meningkatkan peluang terjadinya bakteremia menjadi lebih besar.
Tanpa kebersihan mulut yang tepat, bakteri juga dapat mencapai tingkat yang menyebabkan infeksi mulut, seperti kerusakan gigi dan penyakit gusi. Bahkan, teori fokal infeksi menyebutkan bahwa infeksi pada rongga mulut bertanggung jawab pada terjadinya tiga penyakit sistemik, yaitu penyakit kardiovaskuler, diabetes melitus, dan aterosklerosis.

Dampak kesehatan gigi dan mulut yang buruk

Beberapa penyakit yang terjadi akibat kesehatan gigi dan mulut yang buruk adalah:
  • Penyakit gusi, yang meskipun ringan namun dapat menjadi lebih buruk keadaannya jika tidak ditangani secara tepat. Penyakit gusi atau penyakit periodontal dapat menyebabkan hilangnya gigi, infeksi, dan komplikasi lainnya.
  • Peradangan pada bagian dalam jantung, disebut endokarditis. Penyakit ini terjadi sebagai akibat adanya bakteri dalam mulut yang terbawa aliran darah melalui gusi yang berdarah.

Bagaimana cara menjaga kesehatan gigi dan mulut?

Mengingat pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulu, maka Anda dianjurkan untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut adalah:
  • Sikat gigi minimal dua kali sehari dengan pasta gigi ber-fluoride
  • Makan makanan yang sehat, hindari konsumsi makanan yang mengandung manis/asam secara berlebihan
  • Ganti sikat gigi setidaknya tiga atau empat bulan sekali
  • Jangan merokok
  • Periksa kesehatan gigi dan mulut secara rutin setidaknya enam bulan sekali ke dokter gigi
Kesehatan gigi yang baik merupakan kombinasi dari perawatan sehari-hari yang tepat dimulai dari menggosok gigi dan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut secara rutin ke dokter gigi setidaknya enam bulan sekali. Jadi, jika ingin memiliki kesehatan tubuh yang optimal, jangan lupa untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Karena, menjaga kesehatan mulut Anda adalah investasi dalam kesehatan Anda secara keseluruhan.

Artikel Lainnya:

Cara mudah menjaga kesehatan gigi dan mulut

1. Jangan sikat gigi terlalu keras

Salah satu tujuan sikat gigi adalah menghilangkan plak gigi. Namun, jika Anda menyikat gigi terlalu keras, gesekannya dapat merobek gusi dan mengikis enamel gigi yang relatif tipis. Akibatnya, gigi Anda jadi lebih sensitif. Selain itu, cara sikat gigi yang tidak benar dapat menyebabkan plak gigi malah menumpuk dan mengeras yang dapat berakibat pada gingivitis (peradangan gusi).
Menyikat gigi haruslah dilakukan secara lembut dengan gerakan memutar dan memijat gigi. Biasanya, lama durasi yang efektif untuk sikat gigi adalah sekitar dua menit.

2. Sikat gigi sebelum tidur

Anda pasti tahu jika Anda dianjurkan untuk sikat gigi setidaknya dua kali sehari: bangun pagi dan sebelum beranjak tidur.
Sikat gigi sebelum tidur ternyata dapat menghilangan kuman dan plak pada gigi Anda yang menumpuk lama sepanjang hari. Selain menyikat gigi, Anda juga dianjurkan untuk menyikat lidah demi menghilangkan kuman atau plak yang menempel pada lidah.

3. Gunakan pasta gigi berfluorida

Fluorida adalah unsur alami yang dapat ditemukan di banyak hal, seperti air minum dan makanan yang Anda konsumsi. Fluorida diserap tubuh untuk digunakan oleh sel-sel yang membangun gigi Anda untuk menguatkan enamel gigi. Fluorida juga merupakan pertahanan utama terhadap kerusakan gigi yang bekerja dengan memerangi kuman yang dapat menyebabkan kerusakan, serta menyediakan perlindungan alami untuk gigi Anda. Oleh karena itu, gunakanlah pasta gigi yang mengandung fluorida.

4. Jangan merokok

Tembakau dapat menyebabkan gigi menguning dan bibir menghitam. Merokok juga melipatgandakan risiko Anda terhadap penyakit gusi dan kanker mulut. Oleh karena itu, berhenti merokok sekarang juga.

5. Minum lebih banyak air

Air merupakan minuman terbaik untuk kesehatan Anda secara keseluruhan, termasuk bagi kesehatan mulut Anda karena aktivitas minum dapat membantu membersihkan beberapa efek negatif dari makanan dan minuman yang menempel pada gigi Anda. Bosan dengan rasa air putih yang hambar? Kami punya banyak cara kreatif untuk melatih Anda lebih banyak minum air putih.

6. Batasi konsumsi makanan yang manis dan asam

Anda mungkin seringkali mendengar nasihat, “Jangan banyak makan makanan manis, nanti giginya bolong”. Ternyata, kita memang tidak boleh sembarangan membantah nasehat orangtua. Makanan manis dan asam akan diubah menjadi asam oleh bakteri di mulut yang kemudian dapat menggerogoti enamel gigi Anda. Asam inilah yang menyebabkan gigi Anda cepat berlubang.
Tidak perlu menghentikan konsumsi gula sama sekali untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut, Anda hanya perlu membatasi konsumsinya.

7. Makan makanan yang bergizi

Sama halnya dengan air, makan makanan yang bergizi juga baik untuk kesehatan gigi dan mulut Anda. Makan makanan yang bergizi — termasuk biji-bijian, kacang-kacangan, buah-buahan dan sayuran, dan produk susu — dapat memberikan semua nutrisi yang Anda butuhkan. Bahkan, sebuah studi menemukan bahwa omega-3 lemak — jenis lemak sehat dalam makanan laut— dapat dapat mengurangi risiko peradangan, sehingga dapat menurunkan risiko penyakit gusi.

Artikel Lainnya:

PEMANFAATAN SISTEM PENGOBATAN TRADISIONAL (BATTRA) DI PUSKESMAS


PEMANFAATAN SISTEM PENGOBATAN TRADISIONAL (BATTRA)
DI PUSKESMAS
(Studi Deskriptif Mengenai Intensitas Kunjungan dan Efektifitas Sistem Pengobatan Tradisional (Battra) di Puskesmas Gundih Surabaya)
Masitah Effendi
Departemen Sosiologi, Fisip, Universitas Airlangga
Abstrak
Saat ini pengobatan tradisional banyak diminati oleh masyarakat. Praktek pengobatan tradisonal ini sudah banyak disediakan, termasuk di puskesmas, tetapi animo masyarakat terhadap pengobatan tradisional yang disediakan di puskesmas cukup tinggi. Oleh karena itu penelitian dilakukan untuk mendeskripsikan pemanfaatan sistem pengobatan tradisional yang dilakukan oleh masyarakat, faktor-faktor yang melatarbelakangi masyarakat menggunakan pelayanan pengobatan tradisional yang disediakan oleh puskesmas, efektifitas dari pengobatan tradisional tersebut. Untuk menjawab permasalahan menggunakan teori Marx Weber, Talcot Parsosn yang didukung pula dengan teori mengenai sosiologi kesehatan, yaitu Suchman, serta J.Young. Penelitian ini merupakan tipe kuantitatif yang menggunakan metode penarikan sampel dengan teknik purposive sampling. Penelitian dilakukan di Puskesmas Gundih, Kota Surabaya dengan sampel 50 responden. Teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu Pertama data primer diperoleh melalui wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner. Kedua, data sekunder diperoleh dari sumber kedua atau sumber yang dibutuhkan. Analisis data yang digunakan, yaitu analisis univariat dan bivariat agar menghasilkan analisis yang lebih bervariasi. Hasil temuan menunjukkan bahwa pemanfaatan pengobatan tradisional yang dilakukan masyarakat yaitu untuk berobat, terapi untuk memulihkan kesehatannya. Faktor yang melatarbelakangi masyarakat menggunakan pelayanan pengobatan tradisional yang disediakan di puskesmas dikarenakan obatnya berasal dari herbal dan teknik pengobatannya alami, sehingga efek sampingnya kecil, biaya pengobatan lebih murah daripada pengobatan modern dan pengobatan tradisional yang disediakan oleh swasta. Efektifitas dari pengobatan tradisonal yang dirasakan oleh masyarakat yaitu penenyakit yang di derita sembuh dan cocok dengan obat yang diberikan oleh pengobatan tradisional yang disediakan oleh puskesmas.

Kata Kunci : Masyarakat, Pengobatan Tradisional,Puskesmas, Kesehatan, Pemanfaatan Layanan Kesehatan, Efektifitas
Abstract
Currently demanded by many traditional medical community. The practice of traditional medicine is widely available, including at community health centers, but the lack of traditional treatment provided at the clinics is high enough. Therefore the research was carried out to describe the system utilization of traditional medicine conducted by society, factors which aspects influenced communities using traditional treatment service provided by clinics, the effectiveness of traditional medicine. To answer the problems using the theory of Max Weber, Talcot Parsosn who supported the theory of Sociology of health, namely Suchman and J.Young. this research is quantitative type of sampling method with purpossive sampling technique. The study was conducted at the health center Gundih, Surabaya with sample 50 respondents. Data collection techniques used, the first primary data obtained through interviews using a structured questionnaire. Second, secondary data obtained from the second source or sources are needed. Analysis of the data used, the univariate and bivariate analyzes to produce more varied. The findings indicate that the use of the traditional treatment is for medical treatment, therapy to recuperate. Factors behind the use of traditional medicine services provided in health centers because the medicine came from herbal and natural treatment techniques, so that side effects are small, the cost of treatment is cheaper than modern medicine and traditional medicine provided by the private sector. The effectiveness of traditional medicine that is perceived by the people suffering  the disease recover and match the medicine given by the traditional treatment provided by the clinic.

Keywords: Community, Traditional Medicine, Health Center, Health, Health Services Utilization, Effectiveness




Pendahuluan
Saat ini pengobatan tradisional banyak diminati oleh masyarakat. Pengobatan tradisional yang lebih dikenal dengan sebutan Battra. Battra merupakan bagian integral dari kebudayaan, karena konsep mengenai kondisi sakit dan cara pengobatannya itu tidak berdiri sendiri, tetapi terintegrasi dengan kebudayaan lainnya. Masih digunakannya cara pengobatan tradisional di kalangan masyarakat pendukungnya disebabkan fungsinya mampu memenuhi persyaratan yang berhubungan dengan kesehatan. Menurut World Health Organization (WHO), negara-negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin menggunakan obat tradisional (herbal) sebagai pelengkap pengobatan primer yang mereka terima. Bahkan di Afrika, sebanyak 80% dari populasi menggunakan obat herbal untuk pengobatan primer (WHO, 2003). Faktor pendorong terjadinya peningkatan penggunaan obat tradisional di negara maju adalah usia harapan hidup yang lebih panjang pada saat prevalensi penyakit kronik meningkat, adanya kegagalan penggunaan obat modern untuk penyakit tertentu diantaranya kanker, serta semakin luas akses informasi mengenai obat tradisional di seluruh dunia.
WHO merekomendasi penggunaan obat tradisional termasuk obat herbal dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama untuk kronis, penyakit degeneratif dan kanker. Hal ini menunjukan dukungan WHO untuk “back to nature” yang dalam hal yang lebih menguntungkan. Untuk meningkatkan keselektifan pengobatan dan mengurangi pengaruh musim dan tempat asal tanaman terhadap efek, serta lebih memudahkan standarisasi bahan obat maka zat aktif diekstraksi lalu dimurnikan sampai diperoleh zat murni. Di Indonesia dari tahun ke tahun terjadi peningkatan produksi obat tradisional.
Badan kesehatan Dunia PBB ( World Health Organization ) menunjukkan kepedulian tentang perkembangan dan pengembangan pengobatan tradisional. Bahkan, badan dunia ini sudah mengeluarkan buku panduan umum penelitian pengobatan tradisional. Dalam buku panduan ini, dikemukakan metodologi penelitian dan evaluasi penelitian terhadap jenis pengobatan tradisional. Sementara jenis pengobatan alternative yang dikembangkan dan dijadikan kajiannya, dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu pengobatan berdasarkan herbal dan terapi yang berdasarkan prosedur tradisional, yang termasuk  ke dalam pengobatan alternative herbal, yaitu penggunaan bahan asli tanaman seperti bunga, buah – buahan, akar, atau bagian lain dari tumbuhan yang digunakan untuk pengobatan. Pengolahan herbal (herbal preparation). Pengolahan tumbuhan dilandaskan pada produk tumbuhan yang sudah diselesaikan, atau beberapa produk pengolahan tanaman hasil dari ekstrasi, pelarutan fraksianisasi, purifikasi, konsentrasi atau proses pengolahan fisikawi. Jenis pengobatan alternative yang kedua adalah terapi. Terapi yang dilandaskan pada prosedur tradisional adalah terapi – terapi yang digunakan dengan teknik bervariasi, terutama yang tanpa menggunakan medikasi. Misalnya akupuntur dan teknik – teknik chiropractic, osteopathy, manual therapies, qigong, tai ji, yoga, naturopathy, thermal medicine dan terapi fisik lainnya.
Saat ini istilah pengobatan tradisional lebih dikenal dengan pengobatan alternative. Hal tersebut dikarenakan masyarakat menggunakan pengobatan tersebut sebagai pengganti dari system pengobatan modern. Pengobatan alternative dimaksudkan sebagai bentuk pelayanan pengobatan yang menggunakan cara, alat, atau bahan yang tidak termasuk dalam standar pengobatan kedokteran modern ( pelayanan kedokteran standar ) dan dipergunakan sebagai alternative atau pelengkap pengobatan kedoktean modern tersebut ( www.MedikaHolistik.com diunduh pada 24-06-2012 pukul 21.24)
Pelayanan kesehatan yang banyak diminati masyarakat Indonesia saat ini adalah pengobatan alternative atau pengobatan tradisional. Pengobatan alternative merupakan pengobatan yang menggunakan cara alat atau bahan yang tidak termasuk dalam standar pengobatan kedokteran dan dipergunakan sebagai alternative atau pelengkap pengobatan kedokteran tersebut .Data menunjukkan bahwa pasien yang menggunakan pengobatan alternative lebih banyak dibandingkan dengan yang datang ke dokter. Di Australia sebesar 48,5% masyarakatnya menggunakan terapi alternative, di Perancis sebesar 495 dan Taiwan sebesar 90% pasien mendapat terapi konvensional yang dikombinasikan dengan pengobatan tradisional Cina. Jika ditinjau dari segi jenis penyakit diketahui bahwa penggunaan terapi alternative pada penyakit kanker bervariasi antara 9% sampai dengan 45% dan penggunaan terapi alternative pada pasien penyakit saraf bervariasi antara 9% sampai 56%. Penelitian di Cina menunjukkan bahwa 64% penderita kanker stadium lanjut menggunakan terapi alternative(Turana,2009.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20105/5/Chapter%20I.pdf diunduh pada 24-06-2012 pukul 20:43)).
Sistem pelayanan kesehatan merupakan bagian penting dalam meningkatkan derajat kesehatan. Dengan adanya sistem kesehatan ini tujuan pembangunan dapat tercapai efektif, efisien, dan tepat sasaran. Keberhasilan sistem pelayanan kesehatan bergantung pada berbagai komponen yang ada baik dana, fasilitas penunjang maupun sumber daya manusia yang ada, dalam hal ini perawat, dokter, radiologi, ahli fisioterapi, ahli gizi, dan tim kesehatan lain ( Mubarak dan Chayatin, 2009 ). ). Seluruh bidang pelayanan kesehatan sedang mengalami perubahan dan tidak satupun perubahan yang berjalan lebih cepat dibandingkan yang terjadi pada bidang perawatan. Perawatan adalah pelayanan esensial yang diberikan oleh perawat terhadap individu, keluarga dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan. Pelayanan yang diberikan adalah upaya mencapai derajat kesehatan semaksimal mungkin sesuai  dengan potensi yang dimiliki dalam menjalankan kegiatan di bidang promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif dengan menggunakan proses keperawatan. Kepmenkes RI No. 128/Menkes/SK/II/2004 Puskesmas UPTD kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembekalan kesehatan di suatu wilayah kerja. (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30695/4/Chapter%20II.pdf.Di unduh ada 24-06-2012 pukul 00:48 ).
Pusat Kesehatan Masyarakat, disingkat Puskesmas, adalah Organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat, dengan peran serta aktif masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat. Upaya kesehatan tersebut diselenggarakan dengan menitikberatkan kepada pelayanan untuk masyarakat luas guna mencapai derajat kesehatan yang optimal, tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan. Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis kesehatan di bawah supervisi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.dapat dikatakan  mereka harus memberikan pelayanan preventif, promotif, kuratif sampai dengan rehabilitatif baik melalui upaya kesehatan perorangan (UKP) atau upaya kesehatan masyarakat (UKM). Puskesmas dapat memberikan pelayanan rawat inap selain pelayanan rawat jalan. Hal ini disepakati oleh puskesmas dan dinas kesehatan yang bersangkutan.  Sesuai dengan kebijakan menteri kesehatan republik Indonesia program pokok Puskesmas merupakan program pelayanan kesehatan yang wajib di laksanakan karena mempunyai daya ungkit yang besar terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. (http://kebijakandasarpuskesmas.org di unduh pada 15-04-2012 pukul 20.00) Program Pengembangan pelayanan kesehatan Puskesmas adalah beberapa  upaya kesehatan  pengembangan yang ditetapkan Puskesmas dan Dinas Kesehatan kabupaten/kota sesuai dengan permasalahan, kebutuhan dan kemampuan puskesmas. Dalam struktur organisasi puskesmas program pengembangan ini biasa disebut Program spesifik lokal. Salah satunya adalah Pengobatan Tradisional, adalah program pembinaan  terhadap pelayanan pengobatan  tradisional, pengobat tradisional dan cara pengobatan tradisional. Oleh karena itu yang dimaksud pengobatan  tradisional adalah  pengobatan yang dilakukan secara turun temurun, baik yang menggunakan herbal (jamu), alat (tusuk jarum, juru sunat) maupun keterampilan (pijat).
Setiap program yang dilaksanakan di puskesmas di lengkapi dengan pelaksana program yang terlatih dan sesuai dengan keahlianya, peralatan kesehatan (alat pelayanan dan bahan habis pakai kesehatan), dilengkapi juga dengan pedoman pelaksanan program  dan sasaran program (populasi sasaran dan target sasaran) termasuk sistem pencatatan (register pencatatan pelayanan) dan pelaporannya serta standar operasional prosedur pelayanan  kesehatan programnya, dan beberapa kelengkapan lainnya misalnya kendaran roda dua dan empat. Kelengkapan program  Puskesmas ini selalu mendapatkan pengawasan, evaluasi dan bimbingan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/kotanya.
Pada masyarakat yang sudah maju, ilmu pengetahuan dipelajari melalui jalur pendidikan, baik yang bersifat formal maupun nonformal. Dalam masyarakat tradisional ilmu pengetahuan lebih banyak diperoleh dengan cara mewarisinya secara turun-temurun. Dengan demikian sebagai warga masyarakat yang mengalami proses sosialisasi dan interaksi dalam arena pergaulan sehari – hari, tentunya lingkungan kehidupan masyarakat terbuka terdapat kemungkinan untuk tukar – menukar pengetahuan dan pengalaman sebagai warisan dari generasi pendahuluya.
. Penelitian ini lebih memfokuskan perhatian pada upaya mendeskripsikan pemanfaatan sistem pengobatan tradisional, dan faktor-faktor yang mempengaruhi serta keefektifan dari sistem pengobatan tradisional yang disediakan di puskesmas.



Kajian Pustaka
Layanan kesehatan tidak hanya bertujuan untuk memulihkan kesehatan individu. Lebih jauh dari itu, layanan kesehatan prima lebih menekankan pada usaha untuk melakukan tindakan layanan kesehatan yang dapat memberikan pengaruh positif terhadap perilaku individu, sehingga perilaku individu tersebut mampu menunjukkan sikap dan budaya hidup sehat.konsisten dengan tujuan dan manfaat sosiologi dalam analisis kesehatan, maka salah satu hal penting yang perlu mendapat perhatian para praktisi keehatan itu adalah bagaimana individu atau masyarakat memanfaatkan layanan pengobatan atau layanan kesehatan pada umumnya. Dari penelitian sebelumnya menyatakan bahwa menurut “Departement of Education and Welfare”, USA yang dikutip oleh Damhar (2002), factor – factor yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah :
a.       Faktor regional dan residence
b.      Faktor dari system pelayanan yang bersangkutan
c.       Faktor adanya fasilitas kesehatan yang lain
d.      Faktor dari konsumen yang menggunakan pelayanan kesehatan yaitu
faktor sosio demografi ( meliputi umur, jenis kelamin dan status perkawinan ). Faktor sosiopsikologi (meliputi sikap/persepsi terhadap pelayanan kesehatan secara umum, pengetahuan dan sumber informasi dari pelayanan kesehatan), faktor ekonomi dan kemudahan menjangkau pelayanan kesehatan.  
Teori Suchman menyangkut pola sosial dari perilaku yang tampak pada cara orang mencari, menemukan, dan melakukan perawatan medis yang dikutip pada buku Muzaham,1995 : 44-45. Pendekatan yang digunakan berkisar pada adanya 4 unsur yang merupakan faktor utama dalam perilaku sakit, yaitu :
1.      Perilaku itu sendiri
2.      Sekuensinya
3.      Tempat atau ruang lingkup
4.      Variasi perilaku selama tahap – tahap perawatan medis.
Dalam menentukan reaksi tindakannya sehubungan dengan gejala penyakit yang dirasakannya, menurut Suchman individu berproses melalui tahap-tahap berikut ini :
1.      Tahap pengenalan gejala. Tahap asumsi peranan sakit. Tahap kontak dengan pelayanan kesehatan.
2.      Tahap ketergantungan di sakit.
3.      Tahap penyembuhan atau rehabilitasi. ( Solita,2007:hlm 38)
Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa kondisi sosial dan ekonomi mempengaruhi orang dalam memanfaatkan layanan kesehatan. Adanya penjelasan Parsons bahwa penyakit tidak hanya dapat dilihat sebagai proses pathophysiological akan tetapi juga dapat dilihat sebagai gejala sosial. Pada saat orang jatuh sakit, menurut Parsons mereka menerims suatu peranan sosial. Peranan tersebut ditandai oleh 4 harapan peranan (role expectations), yakni :
1.      Bahwa orang sakit tidak mempunyai “tanggung jawab” terhadap keadaannya
2.      Mereka dibebaskan dari beberapa kewajiban sosialnya
3.      Mereka ingin melepaskan diri dari peran sakit dan ingin segera “sembuh”
4.      Mereka diminta untuk mencari pertolongan dan menuruti nasehat petugas yang berkompeten dalam soal medis (Waitzkin,dkk,1993: hlm 20).
Dalam hidup bermasyarakat, setiap individu pasti mengadakan hubungan dengan orang lain. Hubungan tersebut dalam sosiologi disebut interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan intisari dari kehidupan sosial. Sebelum kita pelajari lebih jauh mengenai interaksi sosial, ada suatu hal yang mendasari terjadinya interaksi sosial, yaitu tindakan sosial. Kita sebagai makhluk hidup senantiasa melakukan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan tertentu. Tindakan merupakan suatu perbuatan, perilaku, atau aksi yang dilakukan oleh manusia sepanjang hidupnya guna mencapai tujuan tertentu. Mengenai teori perilaku sosial Max Weber atau sering kita dengar dengan Tindakan sosial, sebelumnya kita melihat apa yang disebut dengan sosiologi menurut Max Weber. Max Weber mendefinisikan sosiologi sebagai ilmu tentang institusi-institusi sosial, sosiologi Weber adalah ilmu tentang perilaku sosial. Menurutnya terjadi suatu pergeseran tekanan ke arah keyakinan, motivasi, dan tujuan pada diri anggota masyarakat, yang semuanya memberi isi dan bentuk kepada kelakuannya. Weber membuat klasifikasi mengenai perilaku sosial atau tindakan sosial menjadi 4 yaitu :
1.      Tindakan yang diarahkan secara rasional (Zweck Rationalitas) yaitu tindakan yang melandaskan diri kepada perimbangan – pertimbangan manusia yang rasional ketika menanggapi lingkungan eksternalnya. Contohnya individu yang terkena penyakit melakukan tindakan dengan cara membawa dirinya ke dokter/pengobatan tradisional untuk mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Tindakan yang dilakukannya sudah dipertimbangkan dengan baik, karena dirinya memiliki tujuan untuk cepat sembuh dari penyakit.
2.      Tindakan yang berorientasi kepada nilai (wert rational) yaitu tindakan yang rasional namun yang menyandarkan diri kepada suatu nilai-nilai absolute tertentu.
1.      Affectual yaitu tindakan yang timbul karena dorongan atau motivasi yang sifatnya emosional.contohnya orang yang terkena kanker stadium 4, dia tidak langsung dibawa berobat. Namun, tindakan yang dilakukannya semua itu tak luput dari dukungan – dukungan atau motivasi yang diperoleh dari orang – orang terdekatnya.
2.       Tindakan tradisional bisa dikatakan sebagai Tindakan  yang tidak memperhitungkan pertimbangan rasional dan berorientasi pada tradisi masa lampau. (Hotman,1986,200 – 201).
J. Young (1980) membuat model perilaku tentang “pilihan berobat”, dimana adaptasi lintas budaya yang terdapat dalam model kepercayaan kesehatan ( health belief model ) digunakan untuk menjelaskan pengambilan keputusan tentang pengobatan. Perumusan Young meliputi 4 unsur utama, yakni :
1. “Daya tarik” (gravity), yaitu tingkat keparahan yang dirasakan oleh kelompok referensi individu ( anggapan bahwa hal itu adasebelum jatuh sakit, yakni kesamaan pendapat dalam kelompok tentang berat ringannya tingkat keparahan dari berbagai jenis penyakit).
2. Pengetahuan tentang cara – cara penyembuhan popular ( home remedy), yang bersumber pada system rujukan awan ( yaitu jika pengobatan tidak diketahui, atau setelah dicoba ternyata tidak efektif, maka individu akan beralih pada system rujukan professional)
3. “Kepercayaan” (faith) atau tingkat kepercayaan terhadap keberhasilan daei berbagai pilihan pengobatan ( terutama dari penyembuhan tradisional)
4. “Kemudahan” (accessibility), meliputi biaya dan tersedianya fasilitas pelayanan kesehatan (sama halnya dengan “kendalayang dirasakan” pada model kepercayaan kesehatan dan “factor kesanggupan”, pada model Anderson) (Muzaham,Fauzi 2007:75).
Penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan tipe penelitian yang bersifat deskriptif. Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk menggambarkan secara cermat karakteristik dari suatu gejala atau masalah yang diteliti. Karakteristik tersebut dapat berupa sifat – sifat suatu individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu, bahkan dapat pula untuk menentukan frekuensi adanya hubungan tertentu antara suatu gejala dan gejala lain dalam masyarakat. (Ulber Silalahi,2009:28-29) Pengambilan sampel merupakan elemen yang sangat penting dalam suatu penelitian karena sampel inilah yang akan mewakili dan merepresentasikan apa yang akan diteliti, jadi pemilihan sampel haruslah benar-benar tepat dan sesuai dengan obyek penelitian.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah adalah purpossive sampling yaitu dengan cara memilih sampel dengan pertimbangan tertentu berdasarkan tujuan penelitian. Pemilihan sampel dengan cara ini digunakan karena sudah mengetahui karakteristik responden yang dibutuhkan untuk menjelaskan tentang judul yang diteliti. Proses dalam pengambilan sampel ini adalah, peneliti datang langsung ke tempat penelitian yaitu puskesmas gundih. Pada saat itu peneliti langsung mewawancarai orang-orang yang cocok sebagai sumber data. Tentunya responden yang dipilih oleh peneliti yaitu responden yang menggunakan pelayanan pengobatan tradisional. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 50 orang, hal ini dikarenakan jumlah pasien yang berkunjung di puskesmas sebanyak 188 orang.
Kesimpulan
Dari hasil analisis dapat ditarik kesimpulan tentang pemanfaatan pengobatan tradisional (Battra) di puskesmas, yaitu Pertama dari karakteristik demografi dan sosial ekonomi yaitu pengguna pengobatan ini rata-rata berumur 20-40 tahun. Responden masih memperdulikan pendidikan, terbukti dengan responden pendidikannya masuk dalam kategori sedang yaitu tamat SLTP dan tamat SMA. Rata-rata pendapatan responden masuk dalam ketegori pendapatan rendah yaitu pendapatan sebesar Rp 150.000,00 – Rp 3.620.000,00.  Kedua, pengetahuan responden tentang pengobatan tradisional yaitu, semua responden mengetahui tentang pengobatan tradisional, mereka rata-rata mengetahui pengobatan tradisional yaitu dari saudara dan teman, tetapi ada juga yang mengetahui dari media massa. Responden juga mengetahui tentang jenis – jenis pengobatan tradisional, paling popular jenis pengobatan tradisional yang diketahui oleh responden adalah pengobatan tradisional (akupuntur, pijat, jamu) dan terapi energi, dan pendapat terbanyak menurut responden tentang pengertian pengobatan tradisional adalah pengobatan yang obatnya berasal dari tumbuhan, hewan, dan bahan mineral.
            Ketiga, pemanfaatan pengobatan tradisional yang dilakukan oleh masyarakat yaitu :responden biasanya di pengobatan tradisional yaitu untuk berobat, tak sedikit juga yang untuk terapi, untuk memulihkan kesehatannya. Jenis pengobatan yang sering dilakukan oleh masyarakat yaitu herbal teknik pengobatan dengan cara meminum jamu sesuai dengan jenis penyakit yang di deitanya. Jenis penyakit yang di periksakan mulai dari jenis penyakit ringan sampai penyakit yang berat, yaitu jenis penyakitnya flu, rematik, diabetes, kanker, gagal ginjal, down syndrome, gizi buruk, obesitas, kolesterol, penyempitan syaraf, anyang-anyangan, lambat berbicara, gagal prostrate, usus mepet, dan tumbuh kembang otak lambat. Selanjutnya pijat, akupressure dan akupuntur adalah jenis pengobatan yang sering dilakukan oleh responden untuk menyembuhkan penyakit yang sedang di deritanya.
            Keempat, yaitu faktor-faktor yang melatarbelakangi responden menggunakan pelayanan pengobatan tradisional yang di sediakan oleh puskesmas, adalah mayoritas responden memilih menggunakan pengobatan tradisional yang disediakan oleh puskesmas yaitu mayoritas pendapat responden  dikarenakan pengobatannya menggunakan bahan herbal, sudah percaya karena pengobatannya sudah dilakukan secara turun temurun, selain itu biaya lebih murah dari pengobatan tradisional yang lain, ataupun lebih murah dari pengobatan yang dilakukan di pengobatan umum, puskesmas ataupun rumah sakit pada umumnya.
            Kelima, yaitu efektifitas dari pengobatan tradisional (Battra) yang dirasakan oleh responden yaitu : penyakit yang di derita oleh responden sembuh, dan responden cocok dengan teknik pengobatan yang dilakukan di pengobatan tradsional dan juga cocok mengkonsumsi obat yang di berikan, misalkan saja cocok dengan jamunya atau cocok dengan kapsul herbalnya. Keefektifan yang dirasakan responden ini dibuktikan dengan rata-rata responden menggunakan pengobatan tradisoonal ini sudah hampir lebih dari satu tahun. Hal ini di akui responden, karena responden cocok menggunakan pengobatan tradisional, dan juga penyakitnya sembuh dengan berobat ke pengobatan tradisional yang disediakan oleh puskesmas ini.



DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku :
Basrawi, Muhammad. Teori Sosial Dalam Tingkat Paradigma. Surabaya.Yayasan Kampusiana.2004
Bungin, M.Burhan. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Komunikasi, Ekonomi, dan Kebij Publik Serta Ilmu – ilmu Sosial Lainnya. Jakarta : Kencana
Dyson, Laurentus. 1998.Pola Tingkah Laku Masyarakat Dalam Mencari Kesembuhan (Berobat). Surabaya. Lembaga Penelitian UA.
Masri, Singarimbun.1995. Metode Penelitian Sosial. Yogyakarta : BPEFE UGM.
Muzaham, Fauzi. 1995.Memperkenalkan Sosiologi Kesehatan.Jakarta : UI-Press.
Notoatmodjo, Soekidjo.Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. 2005. Rineka Cipta. Jakarta.
Siahaan, Hotman M. 1986. Pengantar Ke Arah Sejarah Dan Teori Sosiologi. Jakarta: Erlangga
Silalahi, Ulber. 2009. Metode Penelitian Sosial. Bandung : PT Refika Aditama.
Solita, Sarwono. Sosiologi Kesehatan. 1993.UGM Press. Yogyakarta.
Sudarma, Momon. 2008. Sosiologi Kesehatan.Jakarta : Salemba Medika.

Sumber Jurnal :
Salan, Rudi dr. 1983. Perilaku, Perilaku Kesakitan, dan Peranan Sakit (Suatu Introduksi). Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan RI.
Sudarti. 1983. Aspek sosio budaya yang mempengaruhi pendidikan kesehatan. Dalam majalah kesehatan no. 104. Hal. 415 dan 12 Jakarta Depkes RI.
Sunanti Z, Soejoeti. 2005. Konsep Sehat, Sakit, dan Penyakit Dalam Konteks Sosial. Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan-Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta : Departemen kesehatan RI.
Sumber Internet :
( http://MedikaHolistik.com )


Skripsi :
Akbar, Raditya Kurnia.2011.”Pola Pemanfaatan Pusat Kebugaran (Fitnes Center) (Studi Deskriptif Perilaku Kesehatan Melalui Aktivitas Kebugaran(Fitnes) di Kota Surabaya)
Setaya, Hendra Dwi.2008.”Pola Pemanfaatan layanan Kesehatan Kampus(Studi Deskriptif Mengenai Pola Pemanfaatan Layanan Kesehatan Kampus oleh Mahasiswa Di Lingkungan Universitas Airlangga)
Safirin, Janiet Setela.2010.”Pola Pemanfaatan Jamkesmas Dikalangan Masyarakat Miskin (Studi Deskriptif Tentang Akses Masyarakat Miskin Terhadap Pelayanan Kesehatan Di Kel.Wonokusumo, Kec. Semampir, Surabaa)
Sari, Ratih Puspita.2012.”Perilaku Kesehatan dan Aksesbilitas Masyarakat Terhadap     Penanganan Penyakit Tropis Demam Berdarah Dengue (DBD) (Studi Deskriptif Persepsi dan Tindakan Masyarakat Terhadap Penyakit Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Simomulyo Baru Kecamatan Sukomanunggal)




Artikel Lainnya: